Tradisi Tingkeban dalam Pelestarian Kebudayaan di Era Milenial
Oleh: Hesti Eka Setianingsih (185221184)
A. Pendahuluan
Di era revolusi industri 4.0 ini, perubahan terjadi begitu cepat dalam segala bidang. Perkembangan teknologi menyebabkan digitalisasi dan otomatisasi dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Hal ini tentu saja sangat mempengaruhi manusia dalam berpikir, bertindak, dan melakukan kebiasaan lainnya. Salah satunya adalah dalam melakukan kebiasaan-kebiasaan yang sudah menjadi tradisi dan budaya Indonesia ini, khususnya di pulau Jawa.
Tradisi yang dimiliki oleh negeri tercinta ini sangatlah kaya dan beranekaragam dengan segala khas serta keunikannya. Mulai tradisi pernikahan adat jawa, tradisi slametan (selamatan), nyadranan (bersih desa), tingkeban/mitoni (tujuh bulanan pada anak kehamilan anak pertama), keduk beji, dan masih banyak lagi. Namun perlu diketahui bahwa di era milenial ini, tradisi ini mulai hilang satu per satu seiring berjalannya waktu.
Kehidupan yang semakin maju ini membuat manusia melupakan budaya Indonesia peninggalan nenek moyang kita dahulu. Mereka lebih menyukai kebudayaan luar ala-ala barat yang menurut mereka lebih gaul dan populer. Padahal kebudayaan yang dimiliki oleh nusantara ini begitu mempesona dan tidak dimiliki oleh negara manapun. Banyak daerah yang sudah tidak melakukan tradisi-tradisi tersebut seperti halnya di kota-kota besar yang pemikiran masyarakatnya jauh lebih modern. Namun berbeda dengan daerah pedesaan yang saya amati ini. Di Bringin, Kabupaten Ngawi ini masih sangat melekat tradisi adat Jawa. Salah satu tradisi yang masih dilakukan di Bringin adalah tradisi tingkeban/mitoni.
Apa itu tingkeban? Tingkeban/mitoni adalah upacara/tradisi Jawa yang dilakukan pada kehamilan ketika usia tujuh bulan dengan tujuan agar kehamilannya terjaga hingga lahir dengan selamat baik bayinya juga ibunya. Tradisi ini masih dilakukan oleh setiap keluarga di desa ini, karena mereka sangat menghormati budaya dan tradisi nenek moyangnya. Ini bukan berarti masyarakat desa ini tidak maju dalam berteknologi dan mengikuti perkembangan zaman. Mereka mampu mengakulturasi tradisi atau budaya ini dengan ajaran agama Islam yang mana mayoritas masyarakat disini adalah Islam, sehingga tradisi ini bisa diterima dengan baik di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang dinamis.
Tradisi tingkeban masih dilakukan hingga saat ini. Namun dalam praktiknya, tradisi ini berbeda-beda disetiap daerah. Ada yang masih kental dengan budaya Jawa nya, ada juga yang sudah menghilangkan beberapa bagian dari acara tradisi nya, ada juga yang memadukan dengan ajaran Islam. Dalam uraian ini, saya akan menjelaskan acara tingkeban sedetail, jelas, dan ringkas yang mana informasi ini saya dapatkan setelah melakukan wawancara dengan warga masyarakat di desa Dero, Kecamatan Bringin, Ngawi. Beliau antara lain adalah Mbah Supi, Bu Painem, Bu Taminem, Pak Sutrisno, Pak Supardi, dan Mbah Kasimin. Mereka adalah bagian kecil dari masyarakat di daerah ini yang benar-benar paham mengenai tradisi tingkeban/mitoni.
B. Pembahasan
1. Asal Usul Tradisi Tingkeban
Setiap tradisi yang dilakukan pasti memiliki cerita sejarah atau latar belakang yang melandasi tradisi tersebut dilaksanakan, begitu juga dengan tradisi tingkeban ini. Asal mula dari tradisi ini adalah saat pemerintahan Prabu Jayabaya. Ketika itu ada seorang wanita bernama Niken Satingkeb dengan suaminya yaitu Sadiya. Keluarga tersebut sudah melahirkan anak 9 kali, tetapi tidak ada satu pun yang hidup. Karena itulah, keduanya segera menghadap kepada raja Kediri, yaitu Prabu Widayaka (Jayabaya). Oleh sang raja, keluarga tersebut disarankan supaya menjalankan 3 hal, yaitu pada setiap hari rabu dan sabtu, tepatnya pada pukul 17.00, diminta untuk mandi memakai tengkorak kelapa atau bathok sambil mengucap mantera yang telah diberikan.
Setelah mandi kemudian berganti dengan pakaian yang bersih, cara berpakaiannya adalah dengan cara menggembol kelapa gading yang dihiasi oleh Sanghyang Kamajaya dan juga Kamaratih atau Sanghyang Wisnu serta Dewi Sri, kemudian dijatuhkan ke bawah. Kelapa muda tersebut, lalu diikat memakai daun tebu tulak (hitam dan putih) selembar. Setelah kelapa gading tadi dijatuhkan, kemudian diputuskan (dibelah) memakai sebilah keris oleh suaminya.
Ketiga hal tersebutlah, yang nampaknya menjadi dasar masyarakat tanah Jawa menjalankan tradisi selamatan tingkeban hingga saat ini. Sejak saat itu, ternyata Niken Satingkeb bisa hamil dan anaknya hidup. Hal tersebut merupakan lukisan jika orang yang ingin memiliki anak, maka perlu melakukan kesucian atau kebersihan. Niken Satingkeb sebagai wadah harus suci, tidak boleh ternoda, sebab harus dibersihkan dengan mandi keramas. Dari cerita sejarah tersebut, jika ada orang hamil apalagi saat hamil pertama maka dilakukan tingkeban atau mitoni.
2. Tradisi Tingkeban
Dalam tradisi adat Jawa pada kehamilan terdapat beberapa acara slametan (selamatan), yaitu yang pertama adalah slametan tingkeban yang diselenggarakan pada bulan ke tujuh masa kehamilan. Ini hanya dilaksanakan apabila kehamilan tersebut adalah anak yang pertama bagi ibu atau ayahnya ataupun bagi keduanya. Kedua adalah slametan ketika bayi tersebut sudah lahir yang disebut dengan babaran atau brokohan. Ketiga, slametan ketika lima hari setelah bayi tersebut dilahirkan yang disebut sepasaran.
Keempat, slametan ketika bayi tersebut tujuh bulan atau yang disebut dengan pitonan. Selain itu, masih ada beberapa slametan yang bisa dilaksanakan atau pun tidak, antara lain adalah slametan ketika bulan ketiga pada masa kehamilan (telonan), slametan pada bulan pertama setelah kelahiran yang disebut selapanan, dana setahun sesudahnya (taunan).
Slametan ini tidak selalu dilakukan dengan teratur, ada beberapa masyarakat yang hanya melakukannya selama satu atau dua tahun setelah anak itu dilahirkan dengan acara kecil-kecilan. Namun dalam praktiknya ini sangatlah beranekaragam tergantung dengan orang yang melakukannya. Penentuan slametan ini bukan menggunakan hitungan kalender Masehi yang berjumlah 30 hari, melainkan menggunakan tanggal kalender Jawa yang 35 hari.
Pada tradisi ini masyarakat Jawa menggabungkan tujuh hari mingguan Islam-Barat yaitu Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, dan Sabtu dengan lima hari mingguan Jawa yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Dulu orang Jawa juga memiliki tujuh hari sendiri, seperti berbagai bangsa lainnya dan mingguan tujuh hari yang sekarang hanyalah merupakan nama-nama Islam yang menggantikan nama-nama asli.
Karena tujuh kali lima sama dengan 35, maka ada 35 hari yang berbeda-beda dan perputaran ini membentuk “bulan”. Namun, sebenarnya “bulan-bulan” ini bukan merupakan kesatuan yang tetap dan mutlak sebagaimana yang ada pada kita, melainkan hanya merupakan jarak waktu antara suatu hari tertentu dengan datangnya hari itu lagi 35 hari kemudian. Kalau ada orang bertanya kepada orang Jawa tentang kapan ia dilahirkan, ia biasanya akan menjawab “Sabtu-Pahing” misalnya.
Kesulitannya adalah ia hampir tidak mengenal bulan maupun tahunnya dan ia tidak peduli. Kalau ia dilahirkan pada hari Sabtu-Pahing, maka selapanan-nya atau hari lahirnya dalam sebulan adalah Sabtu-Pahing yang akan datang. Hari kelahirannya dalam masa tujuh bulan (pitonan) akan jatuh pada hari Sabtu-Pahing yang ketujuh sesudah hari lahirnya. Waktu penanggalan Jawa bersifat denyutan, tidak spasial seperti kita. Ketika roda-roda penggerak kalender itu berdetak lagi dalam satu kombinasi tertentu, itu adalah waktunya upacara tertentu harus diselenggarakan, sebuah perjalanan harus dimulai, atau suatu obat harus diminum.
Mungkin sebagian karena inilah, maka kehidupan orang Jawa itu seperti mengalun di antara apa yang bisa disebut waktu penuh dan waktu kosong: momen, jam atau hari-hari yang penuh dengan kegiatan yang sibuk, padat dan intens, berganti dengan masa-masa dimana orang seperti tidak berbuat apa-apa kecuali hanya menanti sesuatu yang akan terjadi pada mereka. Kecuali dalam sedikit kasus dimana slametan tiga bulan kandungan sudah diadakan atau dalam hal seorang perempuan yang telah beranak menikah dengan seorang pria yang belum mempunyai anak, tingkeban mencerminkan perkenalan seorang perempuan Jawa kepada kehidupan sebagai ibu. Karena ketaktentuan yang relatif tentang waktu konsepsi, maka tingkeban tidak diadakan pada hari tertentu sesuai dengan mulainya kehamilan, tetapi selalu pada hari Sabtu yang terdekat dengan bulan kandungan yang ketujuh sepanjang hal itu bisa diperkirakan.
3. Slametan dalam Tradisi Tingkeban
Dalam sistematika selamatan tingkeban ini sudah terjadi akulturasi dengan kebudayaan Islam. Selamatan zaman dulu yang mungkin cenderung lebih ke mistis atau ritual, sekarang sudah ditambah dengan pengajian dan sholawat dengan harapan anaknya bisa lahir dengan selamat dan menjadi anak yang sholeh/sholehah. Dalam pelaksanaannya, tradisi tingkeban diselenggarakan di rumah ibu si calon ibu dan dilaksanakannya sebuah slametan khusus. Sebelum slametan dimulai, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan, antara lain:
a. Sepiring nasi untuk setiap tamu yang mana terdiri dari nasi putih di atas dan nasi kuning di bawahnya. Nasi putih ini melambangkan kesucian, sedangkan nasi kuning melambangkan cinta. Ini harus dihidangkan di atas wadah dari daun pisang yang direkatkan dengan jarum baja (raja dan bangsawan konon menggunakan jarum emas di masa “lalu”) agar anak yang akan lahir kuat dan tajam pikirannya.
b. Nasi dicampur dengan kelapa parutan (serundeng) dan ayam iris. Ini dimaksudkan untuk menghormati Nabi Muhammad maupun untuk menjamin slamet bagi semua peserta dan anak yang akan lahir. Biasanya tercakup di sini sesajen untuk Dewi Pertimah (secara harfiah berarti: “Dewi Hindu, Fatimah”—yakni puteri Muhammad dengan gelar Hindu) yang terdiri atas dua buah pisang yang diletakkan di dasarnya.
c. Tujuh tumpeng kecil nasi putih yang terutama melambangkan tujuh bulan kehamilan, tetapi seringkali berbagai “hajat” lain ditambahkan, seperti untuk menghormati hari ketujuh dalam satu minggu, tujuh lapis langit dan yang semacamnya.
d. Sembilan bola nasi putih yang dibentuk dengan genggaman tangan untuk melambangkan sembilan Wali—penyebar Islam yang legendaris di Indonesia (Walisongo)—dan khususnya untuk memuliakan Sunan Kalijaga, yang paling terkenal serta paling berkuasa dari semua wali, yang biasanya dianggap penemu wayang, slametan dan agama abangan pada umumnya.
e. Sebuah tumpeng nasi yang besar, biasanya disebut tumpeng “kuat” karena ia dibuat dari beras ketan, yang maksudnya agar anak yang dalam kandungan itu kuat dan juga memuliakan danyang desa itu.
f. Beberapa hasil tanaman yang tumbuh di bawah tanah (seperti singkong) dan beberapa buah yang tumbuh bergantung di atas (seperti buah-buahan pada umumnya), yang pertama untuk melambangkan bumi, sedangkan yang kemudian untuk melambangkan langit, yang masing-masing dianggap memiliki tujuh tingkatan.
g. Tiga jenis bubur: putih, merah (dibuat seperti itu dengan memberinya gula kelapa) dan campuran dari keduanya: yang putih di seputar bagian luar, sementara yang merah di tengah piring. Bubur putih melambangkan “air” sang ibu, sedangkan yang merah “air” ayah dan yang campuran keduanya (disebut jenang sengkala) yang secara harfiah berarti bubur malapetaka) dianggap sangat mujarab untuk mencegah masuknya makhluk halus jenis apa pun.
h. Rujak legi, sebuah ramuan yang sedap dari berbagai buah-buahan, cabe, bumbu-bumbu, kunir, temu. dan cengkir (kelapa muda). Ini paling penting dan khas dalam hubungannya dengan tingkeban; kebanyakan elemen lain ada dalam slametan lain, tetapi rujak hanya terdapat di sini. Konon bila rujak itu terasa “pedas” atau “sedap” oleh si ibu, ia akan melahirkan anak perempuan, sebaliknya kalau terasa biasa saja, ia akan melahirkan anak laki-laki.
i. Nasi putih (towo), nasi uduk, nasi kuning yang disebut sego telon,
j. Lauk, yang terdiri dari serundeng, kering tempe, rempah pisang dan rempah singkong, irisan ayam, rempeyek, mie goreng, telur dadar, dan teri.
k. Sudi. Bunga yang ditaruh di janur yang dibentuk segi empat.
l. Ketan lawar yang dibungkus dengan daun pisang
m. Pasung. Tepung beras yang di buat seperti jenang sumsum yang ditaruh di daun nangka diisi irisan pisang.
Selain itu masih ada satu hidangan lagi yang hrus dipersiapkan dalam slametan tersebut yang disebut dengan rowah rosul. Rowah rosul ini bertujuan untuk menghormati kanjeng Nabi Muhammad SAW. Yang perlu dipersiapkan antara lain:
a. Nasi uduk 2 baskom
b. Sego buceng ( nasi putih)
c. Lauk nasi uduk: serundeng 2 piring, rempah 2 piring, keluweh, peyek, kering tempe, telur tempe di iris kecil, teri, lalapan bawang merah dan cabai 2 piring
d. Pisang raja 2 tandan yang dikasih jambi suroh (uang didalam amplop)
e. Kembang wangi yang dikasih air
f. Air putih (banyu kembo)
g. Binat dibungkus daun pisang
Itu hanyalah sedikit dari elemen-elemen utama tingkeban dan makna-makna yang menyertainya. Seorang informan abangan yang terpelajar, terutama yang berusia lanjut, bisa mengemukakan daftar 50 jenis hidangan slametan, masing-masing dengan cara membuatnya yang khusus, makna simboliknya yang khusus dan ditujukan kepada penerima yang khusus pula. Namun, yang mengejutkan bahkan dalam contoh yang sedikit ini adalah percampuran yang kaya dari makhluk-makhluk, dewa serta tokoh-tokoh kebudayaan Islam, Hindu-Buddha dan Jawa asli, ke dalam sebuah sinkretisme yang besar. Dewi Hindu bergaul akrab dengan rasul-rasul Islam dan keduanya dengan danyang setempat dan sedikit sekali tanda-tanda bahwa yang satu merasa heran melihat adanya yang lain di situ.
Dalam sambutan pembukaan selama setengah jam pada tingkeban ada seseorang yang biasanya disebut dengan Mbah Modin (sesepuh desa). Beliau mempersembahkan hidangan dan maksud baik kepada Nabi Adam dan Hawa, Nabi Muhammad, istrinya, anak-anaknya dan sahabat-sahabatnya; kepada danyang desa serta anak-anaknya yang menjaga keempat pojok desa; kepada dua makhluk halus kembar yang menjaga orang yang terlibat dalam upacara itu, yang berasal dari (sebagaimana juga orang Jawa lainnya) bekas tali pusarnya serta air ketuban ibunya dan yang terus mengikutinya sepanjang hayatnya; kepada pancaindra (penglihatan, pendengaran, peraba, pencium serta indra bicara) dan keempat penjuru mata-angin; kepada nenek moyang dari setiap yang hadir; kepada Nini Tawek, bidadari yang menjaga dapur orang Jawa, yang oleh perempuan Jawa suka diberi sedikit sesajen sebelum setiap slametan; kepada Tuhan dalam nama Jawa dan Arabnya (Pangeran dan Allah); kepada makhluk-makhluk halus yang tinggal di kasok-kasok rumah; kepada makhluk-makhluk halus pandai besi yang membuat kens serta tumbak di kawah gunung berapi yang berdekatan; kepada binatang-binatang yang merayap seperti siput dan yang menyusur seperti semut (agar mereka menjauhi makanan itu); kepada “Ibu Pertiwi” yang tidak dirumuskan lebih lanjut; kepada Sunan Kalijaga serta wali-wali lainnya; kepada Baginda Ilyas dan Baginda Khidzir, penjaga bumi serta air; dan kepada bayi yang masih berpuasa serta bersemadi di dalam rahim ibunya. Dan akhirnya ia menutup pembukaan itu dengan syahadat Islam: “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”.
Dalam tingkeban, sebagaimana dalam semua slametan, di samping hidangan, sajian gabungan untuk makhluk-makhluk halus maupun para tetangga, ada lagi sajian khusus untuk makhluk halus secara keseluruhan: yakni sajen. Dengan komposisi yang kurang lebih selalu tetap, sajen senantiasa muncul dalam semua upacara orang Jawa dan seringkali disediakan khusus sekalipun tidak ada upacara.
Para petani sering menempatkan sajen pada salah satu sudut sawah ketika membajak, menanam, memindahkan tanaman, menyiangi ataupun mengetam padi. Seseorang yang mimpi bertemu dengan orang yang telah meninggal, kalau ia merasa bahwa kejadian itu tidak cukup serius untuk mengadakan slametan, maka ia akan meletakkan sajen di persimpangan jalan. Sajen yang diberikan agak banyak dan terdiri atas barang-barang berikut:
a. satu sisir rambut kecil satu sisir lain yang lebih bagus
b. satu kotak kecil yang dibikin dari karton
c. satu kaca rias, terbuat dari potongan kaca yang direkatkan kepada kertas koran
d. sebungkus peniti
e. beberapa benang tenun tradisional Jawa
f. satu tempat gulungan benang dari kayu yang digunakan dalam menenun (ini khusus dalam tingkeban)
g. satu kendi air kecil model Timur Tengah
h. berbagai jenis bunga, rempah-rempah dan tanaman jamu dari kebun (10 macam)
i. sepotong kemenyan kecil
j. satu campuran buah pinang
k. sejumlah tembakau
l. uang 18,5 sen (hams uang logam kuno, namun yang ini sekarang jarang ada)
m. sedikit nasi sebutir telur (juga khusus untuk tingkeban)
Semuanya ditaruh dalam keranjang daun pisang yang besar (takir) dan diberi garis dengan buah pisang. Keranjang itu diletakkan pada satu sisi tempat para undangan slametan duduk. Bila bagian slametan dari tingkeban itu sudah selesai, sajen itu diberikan kepada dukun bayi yang memimpin upacara berikutnya dan yang biasanya juga membantu dalam kelahiran nanti. Namun, sekarang ini, dukun bayi yang melakukan upacara tingkeban tidak selalu menjadi bidan dalam kelahiran. Bahkan orang yang kemudian melahirkan anaknya di rumah sakit kadang-kadang mengadakan upacara tingkeban bersama seorang dukun bayi. Pada upacara tingkeban, mungkin dukun manten yang tadinya meresmikan pernikahan pasangan itu yang mengetuai upacara dan bukan si dukun bayi. Namun ada juga yang mengundang keduanya hadir dalam tingkeban.
4. Prosedur Pelaksanaan Siraman dalam Tradisi Tingkeban
Ketika sambutan pembukaan sudah selesai, donga (do’a dalam bahasa Arab) telah dibacakan, hidangan sudah dicicipi dan dibungkus untuk dibawa pulang, maka upacara untuk tingkeban yang sebenarnya pun dimulai. Acara selanjutnya adalah siraman. Sesajen siraman yaitu:
a. Gedang raja setangkep
b. tumpeng robyong
c. tukon pasar
d. umpluk-umpluk yang berisi:
1) Kuali (beras & telur)
2) Lendi (banyu & gabah, dadap ayep)
3) Jupak (minyak goreng & kapas)
4) Adisulut api (melambangkan semangat hidup)
5) Tumpeng (berisi ayam jawa, kelapa, gula, teh, dan jajanan pasar)
Prosedur pelaksanaan siraman terbagi menjadi tujuh tahap. Pertama. sebelum dilakukannya siraman, terlebih dahulu melakukan pembacaan Surah Al-Fatihah, Al-Ikhlas 3x, Al-Falaq 1x, An-Nas 1x, dan Ayat Kursi 7x. Satu bak air yang ditaburi daun-daun bunga mawar disiapkan (kembang setaman), air itu secara teoretis diambil dari tujuh mata air (tujuh sumur). Konon dalam air mandi seperti itulah, para dewa-dewi mandi dan karenanya pasangan itu untuk sementara dianggap suci. Segayung demi segayung air disiramkan kepada mereka oleh sang dukun, yang mengucapkan mantera (japa).
”Dengan nama Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang! Saya berniat memandikan suami isteri ini, Saya tingkeb mereka dengan air dari tujuh mata air. Semoga semua keturunan mereka memperoleh keselamatan sejak hari ini dan seterusnya.”
Ini merupakan keharusan karena Allah (Maha Suci Dia yang Maha Luhur). Seutas benang tenun Jawa kemudian diambil dari sajen, si perempuan mengikatkannya dengan longgar di pinggangnya. Si lelaki mengambil keris Jawa, mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepalanya untuk menghormatinya dan kemudian memotong benang itu dari bawah ke atas di sebelah dalam agar terpotong ke arah dirinya. Keris itu kemudian disarungkan. Dalam sebuah tingkeban yang saya lihat, keris milik nenek moyang ibu si istri yang digunakan dan kata orang, keris itu tidak pernah dipakai untuk keperluan lain, kecuali untuk tingkeban. Sementara si suami melakukan tugas ini, sang dukun mengucapkan sebuah japa lainnya:
“Dengan nama Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang! Saya berniat memotong daun yang belum terbuka agar jadi terbuka (yakni benang itu, kadang-kadang benar-benar daun yang dipakai), tetapi sebenarnya saya tidak memotong daun— Saya membuka jalan bagi jabang bayi supaya muncul Saya membatasi kau (si bayi) sampai sembilan bulan Semedi di rahim ibumu.”
Kemudian tempat gulungan benang untuk menenun dijatuhkan sang dukun ke dalam sarung si perempuan. Ia ditangkap di bawah oleh ibu si suami dengan sebuah selendang, yang lalu digendongnya seolah-olah benda itu benar-benar seorang anak. Ibu sang suami akan berkelakar, berbicara kepada tempat gulungan benang yang ditimang-timang itu, katanya, “Oh cucuku laki-laki”, sedangkan ibu si istri akan mengatakan, “Oh, cucuku perempuan”. Yang pertama tentu saja berlaku mengharapkan cucu laki-laki, sedangkan yang kedua menginginkan keturunan perempuan.
Dua buah kelapa muda (cengkir) yang dilukis dengan Janaka dan Srikandi atau Kamaratih dan Kamajaya serta juga dilukis tulisan huruf hijaiyyah (akulturasi dengan ajaran Islam), tokoh pewayangan serta isterinya, yang oleh orang Jawa dianggap manusia paling tampan dan cantik, diletakkan di depan sang suami. Ia mengayunkan golok besar sebanyak satu kali ke tiap buah itu. Kalau keduanya terbelah, itu berarti kelahirannya nanti sangat lancar, tidak ada kesulitan sama sekali. Kalau hanya satu yang terbelah, maka yang tidak terbelah menunjukkan jenis kelamin sang bayi (laki-laki kalau Janaka yang tidak terbelah dan seterusnya). Kalau tak satu buah pun terbelah, maka kelahirannya akan sulit dan mungkin tidak selamat sama sekali.
Berbagai gerakan isyarat lainnya, seperti menjatuhkan telur lewat sarung sang istri, melemparkan kendi ke luar pintu (kedua-duanya pecah) dan sebagainya, sering dilakukan juga untuk melambangkan kelahiran yang mudah.
Kedua, si perempuan melakukan pekerjaan rutin ganti pakaian (ganti busana). Dikenakannya kain sehelai demi sehelai, menarik kain yang dipakai sebelumnya dari bawah. Setiap kali melakukan itu, mereka yang berkerumun berteriak-teriak di tengah-tengah keriuhan, “Oh, itu tidak pantas”, sampai perempuan itu mengenakan sarung yang ketujuh dan terakhir yang disebut toh watu. Dalam upacara ganti busana dilakukan dengan jenis kain sebanyak 7 (tujuh) buah dengan motif kain yang berbeda. Motif kain dan kemben yang akan dipakai dipilih yang terbaik dengan harapan agar kelak si bayi juga memiliki kebaikan-kebaikan yang tersirat dalam lambang kain. Motif kain tersebut adalah:
a. Wahyu Tumurun: maknanya agar bayi yang akan lahir senantiasa menjadi orang yang mendekatkan dir,i selalu mendapat Petunjuk dan perlindungan dari Allah SWT.
b. Sido Asih: maknanya agar bayi yang akan lahir menjadi orang yang selalu di cintai dan dikasihi oleh sesama serta mempunyai sifat belas kasih.
c. Sidomukti.: maknanya agar bayi yang akan lahir menjadi orang yang mukti wibawa, yaitu berbahagia dan disegani karena kewibawaannya.
d. Truntum: maknanya agar keluhuran budi orangtuanya menurun (tumaruntum) pada bayi.
e. Sidoluhur: maknanya agar anak menjadi orang yang sopan dan berbudi pekerti luhur.
f. Parangkusumo: maknanya agar anak memiliki kecerdasan bagai tajamnya parang dan memiliki ketangkasan bagai parang yang sedang dimainkan pesilat tangguh. Diharapkan dapat mikul dhuwur mendhem jero, artinya menjunjung harkat dan martabat orang tua serta mengharumkan nama baik keluarga.
g. Semen Romo: maknanya agar anak memiliki rasa cinta kasih kepada sesama layaknya cinta kasihRama dan Sinta pada rakyatnya.
h. Udan Riris: maknanya agar anak dapat membuat situasi yang menyegarkan, enak dipandang, dan menyenangkan siapa saja yang bergaul dengannya.
i. Cakar Ayam: maknanya agar anak pandai mencari rezeki sehingga kebutuhan hidupnya tercukupi, syukur bisa kaya dan berlebihan.
j. Grompol: maknanya semoga keluarga tetap bersatu, tidak bercerai-berai akibat ketidakharmonisan keluarga (nggrompol : berkumpul).
Kain terakhir yang dipakai bermotif sidamukti. Makna simboliknya dapat dirunut dari makna kata sidamukti yang berarti menjadi mukti (mulia) atau bahagia. Kain yang ketujuh (toh watu) secara harfiah berarti tanda yang tak bisa dihapus pada sebuah batu. Sarung toh watu adalah jenis khusus yang dibuat dari katun tebal yang tak akan luntur dan dengan demikian, melambangkan hubungan yang abadi antara ibu serta anak sepanjang hayat, ketakterpisahan mereka selama hidup. Kemanjuran sarung ibu untuk menyadarkan seseorang yang lagi pingsan telah dikisahkan sebelumnya, tetapi simbolisasi hubungan ibu-anak dalam pakaian ibu bersifat lebih umum lagi.
Selanjutnnya kain sidamukti yang dikenakan diikat dengan tebu tulak/benang putih/janur kuning, kemudian ikatan tersebut dipotong oleh suami menggunakan sebilah keris. Tebu tulak lambang tolak bala, agar anak jauh dari halangan. Benang putih (lawe) simbol simpul kelahiran telah terbuka, sedangkan janur kuning yang diikatkan pada perut wanita sebagai pertanda bahwa suami istri tersebut telah mendapatkan cahaya (janur) kemenangan, yaitu akan mendapatkan amanat berupa anak. Cahaya tersebut harus diraih dengan rintangan atau kesulitan, sehingga suami harus mengatasinya dengan cara memotong janur. Pemotongan janur berarti upaya mengatasi kesulitan. Sebelum pemotongan tali dimulai dengan pembacaan Al-Fatihah dan bacaan Robbi shrohli shodri wa yassirli amri 3x.
Ketiga, upacara brojolan atau memasukkan sepasang kelapa gading muda yang telah digambari Janaka dan Srikandi atau Komojoyo dan Komoratih ke dalam sarung dari atas perut calon ibu ke bawah. Makna simbolis dari upacara ini adalah agar kelak bayi lahir dengan mudah tanpa adanya kesulitan. Upacara brojolan dilakukan oleh nenek calon bayi (ibu dari ibu si bayi) dan diterima oleh nenek besan. Secara simbolis gambar Janaka dan Srikandi melambangkan kalau si bayi lahir akan elok rupawan dan memiliki sifat-sifat luhur seperti tokoh yang digambarkan tersebut, mereka merupakan tokoh ideal orang Jawa. Dimulai dengan al-Fatihah 3x.
Keempat, upacara memecahkan periuk dan gayung yang terbuat dari tempurung kelapa (siwur). Maksudnya adalah memberi sawab (doa dan puji keselamatan) agar nanti kalau si ibu masih mengandung lagi, kelahirannya juga tetap mudah.
Kelima, ibu hamil harus melakukan tradisi jual dhawet dan rujak. Yang bertugas membeli para tamu menggunakan uang buatan (kreweng) atau pecahan genteng. Uang tersebut dimasukkan ke dalam kuali dari tanah. Kuali yang berisi uang tersebut dipecah di depan pintu oleh ibu hamil. Hal ini bermakna agar kelak bayi yang lahir akan banyak mendapatkan rezeki. Biasanya sebelumnya diadakan pembacaan 7 surat pilihan dalam al-qur’an yaitu Yasin, Al-Kahfi, Yusuf, Maryam, Ad-Dhukhan, Luqman, dan Al-Mulk kemudian dilanjutkan dengan mujahadah dan ditutup dengan bacaan shrokal/marhaban dengan si ibu berjabat tangan kepada para tamu undangan. Biasanya dilakukan malam sebelum kenduren.
Keenam, yaitu kenduri/slametan/selamatan sebagai syukuran. Pada saat ini, ada beberapa ubarampe (sesaji) yang biasanya perlu dipersiapkan, diantaranya: Tumpeng kuat, yaitu tumpeng berjumlah tujuh. Satu di antara tumpeng itu dibuat paling besar dan enam yang lain, diletakkan mengelilingi tumpeng besar. Bilangan tujuh menggambarkan umur bayi tujuh bulan. Sedangkan makna tumpeng kuat, sebagai lambang agar bayi yang lahir sehat wal afiat dan orangtuanya diberi kekuatan lahir dan batin. Jenang putih dan merah dipadu sebanyak 7 macam, simbol jenang putih melambangkan perempuan sedangkan jenang merah melambangkan laki-laki. Slametan dimulai dengan pembacaan Surah Al-Fatihah dan ditutup do’a oleh pemuka agama setempat.
Ketujuh, upacara menyeret tikar/ kloso bagi orang yang pertama kali keluar dari ruang kenduren/rumah, hal ini mempunyai maksud agar bayi dipermudah dalam kelahiran/keluar dari rahim.
Secara umum, kesadaran terhadap makna berbagai elemen upacara abangan sangat berbeda-beda dari orang ke orang, sementara beberapa orang sangat tertarik dengan serba-serbi keagamaan dan senang memperbincangkannya, yang lain hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh mereka yang “mengerti” dan hanya menaruh perhatian sedikit sekali kepada arti tertinggi dari apa yang mereka lakukan. Melahirkan anak tanpa sebuah tingkeban dikatakan sebagai ngebokne si anak, membuat anak itu seperti kerbau. Mengatakan ini terhadap anak orang lain merupakan penghinaan berat, sebab ini berarti mengatai orangtuanya sebagai binatang, yang tak tahu “aturan manusia”.
Sekalipun demikian, terkadang jika seorang perempuan sudah tiga atau empat kali mengalami keguguran kandungan atau anaknya mati waktu melahirkan, suaminya bisa mengucapkan sumpah, “Yen kowe meteng maneh, tak-kebokne (kalau kau hamil lagi, saya akan mengkerbaukan anak itu)” serta mengatakan bahwa ia tak akan lagi mengadakan tingkeban dan juga berbagai slametan kelahiran lainnya. Ini merupakan hal yang berat untuk dilakukan, karena tidak saja hal itu membuat orang tak lagi terlindungi dari gangguan makhluk halus, tetapi juga menyebabkan dia menjadi sasaran kritik di kemudian hari kalau anak itu ternyata degil atau keras kepala, seperti yang lazim terjadi dalam kasus seperti itu. Namun, seorang tetangga kami yang istrinya jatuh sakit selagi hamil, bersumpah demikian dan semuanya berjalan dengan baik.
C. Penutup
Tingkeban adalah salah satu tradisi dan budaya Jawa yang dilaksanakan dirumah ibu hamil ketika tujuh bulan masa kehamilan anak pertama dengan tujuan agar anak dalam kandungan ibu dapat lahir dengan selamat dan menjadi anak yang sholeh/sholehah.
Sistematika tradisi tingkeban ini ada tiga tahap utama, yang pertama adalah slametan pada umumnya, yang kedua adalah pemecahan kelapa muda oleh si bapak yang telah dilukis gambar wayang dan huruf hijaiyyah, dan yang ketiga adalah acara siraman dan ritual lainnya. Sebelum melakukan tahapan-tahapan tersebut ada banyak hal yang harus dipenuhi, seperti sesajen, rujak legi yang menjadi identik dari tradisi tingkeban, dan hidangan makanan lainnya.
Tradisi ini dalam mengikuti perkembangan zaman tidak selalu dilaksanakan seperti penjelasan di atas. Ada beberapa bagian yang sudah tidak dilaksanakan, seperti siraman dan ritual lainnya. Masyarakat sekarang cenderung lebih fokus ke acara slametan tingkeban tersebut dengan ditambah pengajian atau sholawat yang merupakan perwujudan dari akulturasi budaya Jawa dengan budaya Islam. Hal ini disebabkan karena perkembangan agama Islam yang begitu pesat dan sudah banyak santri yang terbesebar didaerah desa maupun kota.
Sebagai generasi milenial yang menjadi penerus bangsa ini, kita harus mampu menjaga dan melestarikan kebudayaan yang ada di Indonesia agar tidak punah dan tersingkir karena perkembangan teknologi dan komunikasi yang merubah pola kehidupan manusia. Kita harus merubah mindset kita menjadi generasi milenial yang berteknologi juga berbudaya dengan kearifan lokal di era milenial.